Media sosial bagi Generasi Z bukan sekadar tempat berbagi foto dan cerita—ia menjadi semacam “album hidup” yang merekam setiap momen. Dari selfie awkward di tahun pertama kuliah hingga foto grup dengan caption “squad goals” yang sekarang terasa basi, semua kenangan tersimpan rapi di profil mereka. Namun, ada satu fenomena unik: Gen Z sering kali merasa cringe atau malu saat membuka unggahan lama mereka sendiri. Mengapa ini bisa terjadi?
1. Momen ‘Oh, Dulu Gue Begini Ternyata’
Generasi Z adalah generasi yang tumbuh dengan cepatnya perubahan tren di media sosial. Apa yang dulu dianggap “keren” atau “lucu” bisa berubah menjadi sesuatu yang “nggak banget” dalam waktu singkat. Tren pose duckface, filter berlebihan, atau caption ala “deep quotes” yang dulu populer, kini membuat Gen Z merasa aneh. Momen saat mereka menyadari perubahan selera dan gaya pribadi ini sering membuat mereka ingin segera menghapus atau menyembunyikan unggahan-unggahan tersebut.
2. Evolusi Visual: Dari Filter Parah ke Estetika Minimalis
Ketika media sosial pertama kali populer, aplikasi seperti Instagram menawarkan berbagai filter tebal seperti “Valencia” atau “Hudson” yang sering dipakai. Namun, sekarang tren visual sudah beralih ke estetika yang lebih natural dan minimalis. Saat membuka foto lama yang penuh dengan filter warna-warni, Gen Z bisa merasa itu terlalu berlebihan atau “too much.” Akhirnya, muncullah perasaan malu karena unggahan-unggahan yang dulu dianggap keren sekarang terlihat seperti karya eksperimen filter yang gagal.
3. Caption ‘Basi’ yang Bikin Malu Sendiri
Dulu, caption panjang-panjang ala curhat atau kutipan motivasi seperti “Live, Love, Laugh” dianggap keren dan bijak. Tapi sekarang, caption minimalis atau satu kata saja malah terlihat lebih elegan. Gen Z yang menelusuri unggahan lama sering kali mendapati caption mereka yang penuh dengan emoji dan ungkapan “kekinian” masa lalu. Membaca ulang caption semacam ini sering membuat mereka berpikir, “Ya ampun, kenapa dulu gue nulis ini, sih?”
4. Tren yang Silih Berganti dengan Cepat
Generasi Z mungkin adalah salah satu kelompok yang paling fleksibel dalam mengikuti tren. Mereka terbiasa beradaptasi dengan hal-hal baru dengan cepat. Namun, justru karena kecepatan perubahan ini, apa yang dulu trendi bisa dengan cepat dianggap kuno atau cringe. Dari gaya berpakaian hingga tarian TikTok, semua punya masa aktif yang singkat. Saat membuka video TikTok lama, mungkin Gen Z merasa momen itu lebih baik disembunyikan daripada terlihat oleh dunia.
5. Perubahan Makna dan Sensitivitas
Dengan berkembangnya kesadaran sosial, banyak unggahan lama yang kini dianggap sensitif atau tak pantas. Apa yang dulu dianggap biasa saja kini bisa dilihat dari perspektif yang berbeda, apalagi dengan meningkatnya kesadaran tentang keberagaman dan inklusivitas. Misalnya, candaan yang dulu mungkin terasa lucu kini terasa “tidak sensitif” bagi sebagian orang. Ini membuat Gen Z sering kali menghapus atau memprivasi unggahan lama agar tak menimbulkan kesalahpahaman.
6. Fenomena ‘Rebranding Diri’
Bagi banyak Gen Z, media sosial bukan hanya cerminan diri, tapi juga bagian dari “branding” mereka. Unggahan yang mereka buat saat remaja mungkin tidak lagi mencerminkan siapa diri mereka sekarang. Proses “rebranding” ini sering kali membuat mereka mengatur ulang profil dan menghapus unggahan lama. Mereka ingin tampil lebih sesuai dengan versi diri mereka yang sekarang, dan kadang-kadang, unggahan lama bisa mengganggu “vibe” baru yang sedang mereka bangun.
Jadi, Apa yang Bisa Dipelajari dari Fenomena Ini?
Perasaan malu saat melihat unggahan lama ini menunjukkan betapa dinamisnya Generasi Z. Mereka tak takut berubah dan terus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan tren. Namun, di sisi lain, ini juga menjadi pengingat bahwa setiap unggahan di media sosial adalah bagian dari perjalanan hidup. Meskipun kadang merasa malu, unggahan-unggahan lama ini adalah cerminan dari proses pertumbuhan dan perubahan diri.
Di akhir hari, mungkin Generasi Z perlu sesekali menahan diri dari tombol delete dan melihat unggahan-unggahan lama sebagai pengingat lucu dari perjalanan mereka. Lagipula, semua orang pasti punya momen cringe di masa lalu, bukan?